Priscilla Saputro – Batik Nyonya Indo “Kemas Batik Tradisional, Berdesain Kontemporer”

MEasiaMagazine | Batik Nyonya Indo – Konsep saya dengan suami dari awal adalah kualitas nomor satu. Karena saya melihat, pakaian batik yang sudah jadi itu haruslah memiliki jiwa, sehingga terasa lain dari pada yang lain.

Sudah tentu batik memiliki filosofi di dalam lukisannya terhadap kebudayaan manusia. Hingga betapa melimpahnya motif batik terbuat hasil karya pembatik terbaik. Kehadiran batik dalam masyarakat Jawa merupakan representasi zaman sekaligus simbol sebagai penanda peraturan dalam adat istiadat.

Inilah pokok pengertian karya batik tanah air melalui catatan sejarah kebudaya­an masyarakat Jawa, yang dijelaskan oleh pemilik gerai Batik Nyonya Indo, Priscilla Saputro selaku produsen batik kelas elit. Ia menyampaikan, selain sebagai warisan budaya, rupanya filosofi batik di era modern kini mengalami pergeseran atas pemaknaan motif, yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat. “Dahulu dalam pernikahan banyak masyarakat menggunakan Turungtung. Namun sekarang itu tidak pasti, sebab ada juga yang memakai Sido Mukti. Alasannya, si orang tua ingin anaknya yang menikah itu menjadi orang yang mukti, yang sudah menjadi bagian dalam doa,” kata Priscilla di butiknya, Batik Nyonya Indo di bilangan Permata Hijau, Jakarta Barat.

Dalam pertemuan dengan MEasia siang itu, ia tampak piawai dalam dunia perbatikan. Terbukti dengan konsep yang diusung, yakni menjual batik bermotif tradisional seperti Parang, Turungtung, Sekar Jagad dan Kawung. Dengan memberikan sentuhan warna yang lebih berani untuk mengambil pasar orang muda. Hasilnya berupa batik klasik berwarna klasik, batik klasik bewarna kontemporer, batik kontemporer berwarna klasik dan batik kontemporer warna kontemporer.

Konsep itu telah ia pikirkan matang-matang lantaran selama hidupnya tidak jauh dari kalangan pembuat batik. Sedari kecil ia tumbuh di dalam lingkungan pembatik di wilayah Seragen, Jawa Tengah. Meski begitu, selama itu pula ia tidak mau ikutan membatik, melainkan mendesain pakaian untuk kemudian ia kenakan dalam kegiatan sehari-hari. Terdengarnya memang lucu, namun ia mengakui itu dilakukan karena terinspirasi dari majalah-majalah yang dibaca dengan memuat fesyen pakaian yang bagus.

Sebagai perancang ia belajar secara otodidak tidak melalui lembaga pendidikan formal. Keahlian desainnya itu ia terapkan ke dalam batik, meskipun ada yang berbeda dengan pakaian biasa dari segi pemotongan, jahitan dan beberapa metode desain baju. Terlebih, mengenai pengerjaan di dalamnya, pembuatan motif batik dilakukan sang suami, sedangkan dirinya fokus pada fesyen pakaian. Tidak jarang mereka mendapatkan kualitas batik yang baik, buktinya, pemborong tetap saja datang beli batik-batik tersebut.

Gerai batik miliknya pertama kali ada pada tahun 1998 di jalan Malioboro, Yogyakarta. Pastinya masih ingat bahwa pada tahun itu negara sedang dalam keadaan darurat menyusul terjadinya krisis moneter. Walaupun demikian, ia beserta suami tetap bekerja dengan suka cita. Sampai suatu saat turis asing untuk pertama kalinya memesan 10 buah baju batik. Alhasil, si turis datang lagi untuk memesan baju batik kepadanya. Melihat pengalamannya tersebut, ia menekankan pentingnya kualitas dalam bisnis tekstil.

Menjajakan persaingan di Ibu Kota semata-mata bukanlah keinginan Pris­cillia. Menurutnya, ketika ia sudah semakin banyak membuka gerai di Yogyakarta, pihak Batik Nyonya Indo kerap melanglang buana ke berbagai kota besar termasuk Jakarta untuk mendistribusikan barang. Sehubungan dengan pelanggan Batik Nyonya Indo yang kebanyakan para pejabat dan orang penting berdomisili di Jakarta, mereka meminta Batik Nyonya Indo membuka gerai di Jakarta. “Sebab 80 persen pelanggan kami ingin kami ada di sini. Jadi begitu saya buka di sini, saya tidak perlu susah-susah untuk membuat gerai ini hidup,” ungkapnya. ME Vito Adhityahadi / Photographer: Dhodi Syailendra / Location: Batik Nyonya Indo, Lt. I, Belleza Building, Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Source: http://www.measiamagazine.net/priscillia-saputro-batik-nyonya-indo-kemas-batik-tradisional-berdesain-kontemporer/